Masa ujian hampir usai dan liburan telah menanti tepat di depan mata. Begitu pun di pondok pesantren Babussalam, seluruh murid semakin bersemangat untuk berhitung mundur menuju hari perpulangan dan bayang liburan bersama keluarga semakin jelas. Namun, apakah ujian akan berakhir begitu saja? Apakah hanya sekadar menjawab soal lalu dilupakan begitu saja? Sebenarnya mengapa harus diadakan ujian? Kenapa hari-hari ujian sangat menegangkan dan juga yang ditunggu-tunggu?

    Seluruh sekolah di Indonesia dari mulai pondok pesantren hingga sekolah negeri melaksanakan sistem belajar yang sama, yaitu sistem belajar mengajar yang di setiap satu semesternya akan dilaksanakan ujian. Apa-apa yang telah diberikan maka akan ditanyakan kembali dalam ujian dan dari proses tersebut para siswa akan mendapatkan nilai, dan dari nilai tersebut siswa akan mengetahui apakah dia baik dalam pelajaran yang diujikan atau justru sebaliknya.

       Ujian dan tes merupakan cara yang baik untuk menilai apa yang telah pelajar/siswa pelajari yang berkaitan dengan pelajaran atau materi-materi dalam kurun waktu tertentu. Ujian akan menunjukkan bagian pelajaran mana yang paling diminati dan diingat oleh siswa. Ujian juga mengharuskan siswa untuk menjadi lebih individual dan bekerja untuk dirinya sendiri, dari hal itu guru akan mengetahui lebih jauh tentang siswa-siswanya . selain itu siswa harus memperoleh nilai tertentu untuk dapat dinyatakan lulus atau tidak. Namun, jika ujian ditujukan untuk mengetahui sebagaimana kuat ingatan siswa dan nilai sebagai standar kemampuan siswa, apakah ilmu hanya sampai batas hafalan? Sedangkan semakin dewasa, setiap anak harus semakin bisa menggunakan nalar dan pikiran mereka, dan mengutip seorang tokoh pendidikan “Jean Piaget” semakin dewasa seharusnya manusia harus dapat melakukan hal-hal baru bukan hanya mengulang sesuatu yang telah dilakukan orang-orang sebelum mereka.

      Maka dari itu, Pondok Pesantren Modern Babussalam mengaplikasikan sistem ujian yang panjang dan bertahap. Tidak hanya ujian dengan menjawab soal-soal pilihan ganda yang cenderung akan cepat membuat siswa berputus asa, tapi PPM Babussalam juga menerapkan ujian lisan dan tulis yang diselenggarakan dalam waktu 3 minggu, satu minggu untuk ujian lisan dan 2 minggu untuk ujian tulis. Proses panjang dalam ujian ini bukan tanpa sebab karena proses ini akan menjadi sangat penting dalam mengevaluasi belajar mengajar.

  Dalam ujian lisan, seluruh santri Babussalam diharuskan untuk mempelajari beberapa mata pelajaran sekaligus untuk satu kali ujian lisan, seperti ujian lisan bahasan Arab contohnya, santri harus mempelajarai materi Nahwu, Shorf, Muthola’ah, Muhadatsah, Tarjamah dan Mufrodat. Semua materi tersebut pada dasarnya diberikan secara terpisah pada kegiatan belajar mengajar sehar-hari. Dari ujian tersebut penguji dapat mengetahui secara langsung kemampuan santri dalam mengolah kata, pemahaman tentang materi yang telah disampaikan hingga koleksi kosakata setiap individu karena siswa dapat mengolah kata sendiri dan merangkai kosakatanya sendiri. Ujian lisan ini yang menjadi penyeimbang ujian tulis yang masih mengharuskan banyaknya hafalan (yang biasanya membuat siswa kurang kreatif dalam mengolah kata) di hampir setiap mata pelajaran.

   Pada dasarnya, ujian di PPM Babussalam merupakan salah satu proses belajar bagi asaatidzah hingga seluruh santri, kedunya belajar untuk terus menjadi lebih baik. Maka, dari hasil ujian yang telah dilaksanakan nanti, diharapkan dapat ditemukannya solusi atas kekurangan dalam kegiatan belajar mengajar bagi para pengajar, dan siswa  dapat melakukan evaluasi pada diri sendiri sehingga semakin menyuburkan semangat belajar.

“The principal goal of education is not to increase the amount of knowlegde but to vcreate the possibilities for child to invent and discover, to create men who are capable of doing new things”-old-post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *