Pada tahun 2045 Negara Indonesia akan memperingati 100 tahun kemerdekaan dan pengisi kemerdakaannya adalah putra-putri kita yang sekarang duduk di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Pertanyaannya sekarang adalah bekal apa yang harus kita siapkan untuk putra-putri kita? Untuk  generasi milenial tidak sedikit bekal yang harus kita siapkan untuk mereka, sebagaimana Alloh berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 9 yang intinya agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah dalam segala hal, terutama lemah dalam beraqidah beribadah.

   Ada satu pelajaran menarik yang dapat kita petik dari sang penakhluk Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih. Dalam bukunya Be Better Be A Miracle Zarliantino Al-Fikri menceritakan ada satu kisah menarik tentang Muhammad Al-Fatih. Pernah pada satu saat, Sultan Muhammad Al-Fatih mengumpulkan dan bertanya pada seluruh prajuritnya:

“Siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan puasa ramadhan sejak baligh? Yang pernah melakukannya silahkan duduk“.

Tidak ada satupun diantara prajurit yang duduk. Artinya tidak satupun diantara mereka yang pernah bolong puasa ramadhan sejak balighnya. Al-Fatih lantas bertanya kembali.

Siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan sholat lima waktu berjamaah di masjid sejak baligh? Yang pernah melakukannya silahkan duduk“.

   Kali ini lebih dari setengah dari seluruh prajurit duduk sambil menangis tersedu-sedu. Mereka khawatir kelalaian membuat mereka tak Allah pantaskan menjadi bagian dari pasukan penakluk Konstantinopel. Al-Fatih bertanya kembali.

Siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan tilawah Al-Qur’an harian sejak balighnya? Yang pernah melakukannya silahkan duduk“.

   Lagi-lagi, sebagian besar prajurit duduk. Hampir semua dari mereka menyesal karena kelalaiannya. Al-Fatih kemudian bertanya lagi.

Siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan Qiyamul Lail  sejak balighnya, walau sehari saja? Yang pernah melakukannya silahkan duduk.

   Semua prajurit terduduk. Hanya tersisa satu orang saja yang masih berdiri. Dia adalah Sultan Muhammad Al-Fatih.(1016: 93-94).

   Begitulah sang guru Aaq Syamsuddin mendidik sang sultan yang mengutamakan aqidah, ibadah dan akhlakul karimah. Akhirnya pemuda berusia 21 tahun itu berhasil merobohkan tembok kota konstantinopel yang ribuan tahun belum pernah tertembus oleh pasukan manapun. Seorang pemuda yang terkenal dengan strategi gilanya menyeberangkan 72 kapal tempur melewati bukit setinggi 60 meter di atas permukaan laut, hanya dalam waktu satu malam. Dialah pemuda sulit tanding, yang tak pernah luput qiyamul lail-nya sejak akil baligh, yang tak pernah masbuk dalam sholat berjamaah sampai akhir hayatnya. Dialah Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Penakhluk Konstantinopel.

  Dari kisah di atas bisa kita simpulkan bahwa faktor terpenting yang menopang kesuksesan putra-putri kita adalah seberapa dekat mereka dengan sang Pencipta. Sholat, Puasa, Tilawatul  Qur’an, Qiyamul Lail adalah bekal utama untuk putra-putri kita, sang generasi milenial.

   Lulus ujian akademik itu penting, tapi jauh lebih penting bila lulus ujian akademik di sertai lulus secara moralitas.

كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَــــــــــــــثـُــــــرَ رَخُــــــــــــصَ إِلَّا الْأَدَبَ

 Segala sesuatu jika banyak menjadi murah kecuali adap (sopan santun)“-old-post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *