Secarik Sejarah Tentang penjajahan di Indonesia

17 Agustus 1945, untuk pertam kalinya sang saka merah putih berkibar diujung tiang, rasa lelah akan berjuang telah terbalaskan, semua rasa syukur segera terpanjatkan, pada hari itu suara proklamasi mulai terdengar oleh seluruh rakyat nusantara, suatu kebanggaan besar bagi negeri ini, dan kita wajib bersyukur atas pencapaian yang sangat luar biasa bagi tanah air kita.

Pada akhir abad ke-16, Belanda mulai menginjak tanah nusantara untuk pertama kalinya, tetapi penjajahan tidak langsung dimulai ketika mereka dating, sebaliknya, penjajahan oleh bangsa Belanda merupakan ekspansi politik yang lambat, bertahap, dan berlangsung selama beberapa abad sebelum mencapai batas-batas wilayah Indonesia seperti yang ada sekarang.

Pada abad ke-18, vereenigde oost-indische (VOC) memantapkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan politik di pulau jawa setelah runtuhnya kesultanan mataram. Organisasi Belanda ini menjadi senjata utama diperdagangan Asia sejak awal 1600-an, tetapi pada abad ke-18,mulai menumbuhkan keinginan untuk campur tangan dalam politik pribumi di pulau jawa demi menaikan kekuasaannya pada ekonomi local.

Namun korupsi, manajemen yang buruk dan persaingan ketat mengakibatkan runtuhnya VOC menjelang akhir abad ke-18, pada tahun 1796. VOC akhirnya bangkrut dan kemudian dinasionaliskan oleh pemerintah Belanda. Dua nama besar menonjol sebagai arsitek cerdik dari Belanda. Pertama, Herman William Deandels dan kedua, Stamford raffles, letnan Inggris (ketika jawa dikuasai Inggris). Deandels membagi pulau jawa dala distrik(dikenal sebagai residensi) yanga dipimpin oleh seorang pegawai negeri sipil eropa yang disebut residen. Residen ini bertanggung jawab atas berbagai hal di residensi mereka, termasuk masalah hukum dan organisasi pertanian.

Kemudian Raffles melanjutkan reorganisasi pendahulunya (Deandels) dengan mereformasi pengadilan, polisi dan sistem administrasi di jawa, dia juga memperkenalkan sistem pajak di jawa yang berarti, bahwa petani jawa harus membayar pajak, kira-kira nilai dua per lima dari panen tahunan mereka.

Meningkatnya dominasi Belanda atas pulau jawa tidak dating tanpa perlawanan. Ketika pemerintah colonial Belanda memutuskan untuk membangun jalan di tanah yang dimiliki Pangeran Diponegoro (yang di tunjuk sebagai wali tahta Yogyakarta setelah kematian mendadak saudara tirinya) ia memberontak dengan didukung oleh mayoritas penduduk jawa tengah dan ia menjadikan perang jihad. Perang ini berlangsung pada tahun 1825-1830, dan mengakibatkan kematian dari sebagian besar orang jawa, dan pangeran diponegoro pun ditangkap dan diasingkan di Manado, Sulawesi utara. Setelah kejadian itu, perlawanan perlawanan mulai banyak bermunculan, sultan hasanudin si ayam jantan dari timur juga turut memeperjuangkan tanah air dan masih banyak tokoh tokoh lainnya juga turut serta memperjuangkan, sampai akhirnya semua perjuangan tidak sia sia, pada hari yang di takdirkan tuhan, 17 Agustus 1945 untuk pertama kalinya, Indonesia mengibarkan benderanya, karya Fatmawati sang permaisuri proklamator Indonesia Ir. Soekarno. Beliau juga menjadi kunci akan keberhasilan Indonesia, dengan di bacakannya proklamasi, akhirnya Indonesia bisa tersenyum bangga, puas, dan bahagia. Karena hari itu adalah alasan bagi Indonesia untuk menjadi seperti sekarang ini.
-M.Arzetti Raditya

6 thoughts on “NKRI Harga Mati, MERDEKA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *